
Ketidakhadiran siswa atlet dalam kelas bukan lagi isu disiplin, melainkan persoalan struktural dalam sistem pendidikan yang belum adaptif.
Realitas inilah yang mendorong tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Esa Unggul untuk turun langsung ke SMA Negeri 2 Setu Bekasi dengan solusi konkret: membangun sistem pembelajaran digital yang memungkinkan siswa atlet tetap belajar meskipun berada di luar sekolah karena latihan dan kompetisi.
Program bertajuk “Pengembangan Sistem Pembelajaran Digital untuk Mendukung Siswa Atlet” ini tidak berhenti pada pelatihan simbolik atau seremonial.
Tim PKM mengembangkan dan mengimplementasikan Learning Management System (LMS) berbasis
Moodle yang benar-benar digunakan oleh guru dan siswa dalam aktivitas belajar sehari-hari.
Masalah Nyata: Prestasi Olahraga Tinggi, Akses Akademik Rendah SMA Negeri 2 Setu Bekasi dikenal sebagai sekolah dengan banyak siswa berprestasi dibidang olahraga, khususnya sepak bola.
Namun, di balik prestasi tersebut tersimpan masalah laten: siswa atlet sering meninggalkan kelas reguler untuk mengikuti pemusatan latihan dan pertandingan antardaerah.
Akibatnya, materi tertinggal, tugas tidak terpantau, dan evaluasi belajar menjadi tidak adil.
Sebelum program ini berjalan, guru hanya mengandalkan grup WhatsApp untuk menyampaikan materi dan tugas. Tidak ada sistem pencatatan kehadiran digital, tidak ada repositori materi yang rapi, dan tidak ada mekanisme evaluasi daring yang terstruktur. Dalam
kondisi seperti ini, ketertinggalan akademik siswa atlet menjadi hampir tak terhindarkan.
Berangkat dari diskusi awal dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan guru mata pelajaran, tim Universitas Esa Unggul melakukan analisis kebutuhan nyata.
Hasilnya jelas: sekolah membutuhkan sistem yang:
1. Bisa diakses lewat ponsel dan laptop,
2. Mudah digunakan guru tanpa pelatihan teknis rumit,
3. Mendukung materi, tugas, kuis, dan interaksi daring,
4. Fleksibel bagi siswa dengan mobilitas tinggi.
Menjawab kebutuhan itu, tim membangun LMS berbasis Moodle pada hosting dan domain sekolah, mengkonfigurasi kategori kelas (X, XI, XII, dan kelas khusus siswa atlet), serta
mengaktifkan fitur kuis, forum diskusi, notifikasi otomatis, dan self-enrollment siswa.
“Ini bukan proyek konsep. Sistemnya hidup dan dipakai. Guru langsung membuat kelas, siswa langsung mengakses materi,” tegas Imam Santosa, M.Pd., ketua tim PkM.
Pelatihan Intensif dan Uji Coba Nyata
Kegiatan inti dilaksanakan dalam sesi pelatihan dan uji coba langsung selama satu hari penuh. Guru tidak hanya diperlihatkan sistem, tetapi mempraktikkan langsung: mengunggah
materi, menyusun kuis, memantau aktivitas siswa, dan mengelola penilaian daring.
Siswa atlet mengakses sistem menggunakan ponsel dan laptop, mengikuti simulasi pembelajaran, dan
memberikan umpan balik secara real time.
Dampak Nyata: Belajar Mandiri, Guru Lebih Terkontrol
Hasil implementasi menunjukkan perubahan signifikan. Siswa atlet mulai mengatur ritme belajar secara mandiri, mengakses materi di luar jam sekolah, dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Guru memperoleh kontrol yang lebih kuat atas proses pembelajaran, mulai dari kehadiran digital hingga evaluasi berbasis data.
Lebih jauh, muncul budaya baru di kalangan siswa: terbentuknya kelompok belajar daring dan siswa yang secara sukarela membantu teman-temannya memahami penggunaan sistem.
Ini menandai lahirnya ekosistem belajar digital yang kolaboratif, bukan sekadar instruksi satu arah dari guru.
Model yang Layak Direplikasi
Program ini menjadi bukti bahwa transformasi digital di sekolah tidak harus mahal,
tidak harus rumit, tetapi harus tepat sasaran. Dengan biaya terbatas dan pendekatan berbasis kebutuhan nyata, sistem pembelajaran digital dapat menjadi solusi strategis bagi kelompok
siswa dengan kondisi belajar non-konvensional.
Luaran program ini didokumentasikan dalam laporan komprehensif dan dipublikasikan melalui repository Universitas Esa Unggul agar dapat dipelajari dan direplikasi oleh sekolah lain, khususnya sekolah dengan siswa berprestasi di bidang olahraga atau seni.
Program ini merupakan bagian dari skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dan selaras dengan tema Renstra Human Development and Competitiveness (HDC), menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat ilmu, tetapi juga sebagai problem nyata bagi
pendidikan di lapangan.
Penulis:Dr. Imam Santosa, M.Pd
(Kaprodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Esa Unggul)
